K3

√ Pengertian Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

K3 Utamakan Kesehatan Keselamatan Kerja
5/5 (14)

Pengertian K3 Keselamatan dan kesehatan kerja, pekerjaan menjadi hal yang penting bagi semua orang yang produktif. pekerjaan diharapkan mampu menghasilkan pundi-pundi uang yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia dan membuat manusia sejahtera. Jutaan manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan impian mereka. Namun, suatu pekerjaan hendaknya tak hanya memerhatikan jumlah gaji saja, tetapi harus memperhatikan pula aspek keselamatan dan kesehatan kerja.

bidang industri di Indonesia berkembang dengan cepat. Perusahaan pun tumbuh menjamur di tengah kota maupun di pinggir desa. Teknologi dalam perusahaan semakin berkembang pula. Namun, di balik canggihnya teknologi tersebut, tentu terdapat risiko yang besar bagi pekerja.

Zaman yang modern kini, pekerjaan begitu banyak menggunakan teknologi, medernisasi, elestrifikasi, mekanisasi, dan melakukan ekspansi di banyak bidang. Oleh sebab itu, intensitas bekerja dan jam kerja para pekerja dapat meningkat. Namun, fakta membuktikan bahwa menurut International Labour Organization (ILO) terjadi kecelakaan kerja sekitar 337 juta kejadian di dunia setiap tahunnya dan 2,3 juta pekerja di antaranya meninggal dunia. Oleh sebab itu, keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja harus diperhatikan oleh semua pihak, baik pimpinan perusahaan maupun para pekerja.

Pengertian Keselamatan dan kesehatan kerja

Menurut International Labour Organization (ILO), keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah seluruh kondisi beserta faktor yang bisa berdampak pada keselamatan dan kesehatan bagi tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja. Tempat kerja dapat sebagai ruangan atau pun lapangan, baik terbuka maupun tertutup, baik tempat untuk bergerak maupun untuk bekerja tetap bagi pekerja.

 

Keselamatan dan kesehatan kerja mencakup dua aspek, yaitu:

  1. Kesehatan kerja

Hal ini mengacu pada kondisi kesehatan fisik dan batin pekerja akibat pengaruh lingkungan kerja. Kesehatan kerja berhubungan dengan kondisi badan dari pekerja. Apabila lingkungan pekerjaan telah dirancang dengan baik, diketahui risikonya, dan pekerjanya diberi alat perlindungan yang layak pula, maka besar kemungkinan kesehatan pekerja menjadi terjamin.

  1. Keselamatan kerja

Hal tersebut merujuk pada situasi yang selamat, aman, serta jauh dari kerugian yang terjadi di tempat kerja. Keselamatan kerja berhubungan dengan bahan, alat, mesin, tempat kerja, dan proses pekerjaan di tempat kerja tersebut. Hendaknya perusahaan memerhatikan hal-hal tersebut.

Keselamatan kesehatan kerja ditekankan agar dapat mewujudkan kesehatan dan keselamatan dalam semua pekerjaan dan lingkungannya. Pengusaha atau majikan harus memerhatikan aspek K3 sejak awal. Jika lingkungan kerja termasuk sehat dan selamat, maka hal tersebut tentu akan memberikan pengaruh baik bagi perusahaan.

Tujuan Keselamatan dan kesehatan kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja sangat diutamakan dalam lingkungan kerja. Hal tersebut bertujuan untuk:

  1. Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja atas keselamatannya ketika melakukan pekerjaan

Tenaga kerja memiliki hak dalam bekerja, salah satunya mendapat perlindungan dan keselamatan dari perusahaan. Apabila hal tersebut terpenuhi, maka kesejahteraan hidup tenaga kerja pun dapat meningkat dan kinerjanya pun semakin baik.

  1. Memberikan jaminan keselamatan tenaga kerja dalam lingkungan pekerjaannya

Tenaga kerja sudah mengerahkan tenga serta pikirannya untuk perusahaan, serta menghadapi risiko dalam pekerjaan. Sudah selayaknya bahwa perusahaan memberi jaminan kesehatan dan keselamatan dengan adanya K3.

  1. Menjaga agar produksi pekerjaan tetap aman dan efisien

Keselamatan dan kesehatan tenaga kerja yang baik tentu akan menghasilkan produktivitas yang baik pula. Hal tersebut pun menyebabkan timbulnya produksi perusahaan yang memenuhi target.

Pentingnya Keselamatan dan kesehatan kerja

Sistem keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting diterapkan dalam lingkungan kerja. Sistem tersebut ditekankan agar dapat mewujudkan kesehatan dan keselamatan dalam semua pekerjaan dan lingkungannya. Pengusaha atau majikan harus memerhatikan aspek keselamatan juga kesehatan kerja sejak awal. Jika lingkungan kerja termasuk sehat dan selamat, maka hal tersebut tentu akan memberikan pengaruh baik bagi perusahaan.

Program K3 dilakukan untuk menghindari dan mengurangi risiko kecelakaan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja harus dilakukan dalam sistem manajemen yang sistematis dan komprehensif. Hal tersebut dapat dilakukan jika terdapat proses perencanaan sejak awal, penerapan sistem, pengukuran keberhasilan sistem, dan dilakukan pengawasan yang intensif.

Keselamatan dan kesehatan para pekerja dapat memengaruhi produktivitas perusahaan. Hal tersebut karena pekerja merupakan sumber daya manusia perusahaan yang mendukung aspek produksi perusahaan. Produksi perusahaan yang memenuhi target perusahaan tentu berpengaruh baik terhadap perusahaan. Oleh sebab itu, keselamatan dan kesehatan para pekerja harus diperhatikan dengan baik untuk kelangsungan perusahaan.

Apabila keselamatan dan kesehatan para pekerja menurun, maka hal tersebut dapat menurunkan kinerja perusahaan karena produktivitas pekerja tidak optimal. Selain itu, kecelakaan kerja yang terjadi karena kurangnya perhatian pada keselamatan juga kesehatan kerja mampu mengurangi produktivitas perusahaan pula.

Peraturan tentang  Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Semua pekerjaan pasti memiliki risiko kecelakaan kapan saja dan di mana saja. Oleh sebab itu, perlu adanya jaminan pada pekerjaan. Salah satu jaminan dalam pekerjaan dalah mendapatkan keselamatan dan kesehatan kerja yang layak. Pemerintah pun serius mengatur hal tersebut. K3 diatur dalam Undang-Undang yang tegas, yaitu sebagai berikut.

  1. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan kerja

Undang-undang tersebut berisi tentang kewajiban pimpinan dalam pekerjaan dan para pekerja dalam menjalankan keselamatan kerja secara jelas.

  1. Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

Undang-undang tersebut menetapkan bahwa perusahaan wajib memberi fasilitas pemeriksaan anggota badan, kondisi mental, kemampuan pekerja secara fisik, yang mana pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan proporsi risiko pekerja dan dilakukan secara berkala.

Selain itu, undang-undang tersebut menekankan pula kepada pekerja untuk memakai alat perlindungan diri dengan benar dan sesuai pekerjaannya, misalnya helm safety, sepatu boots, sarung tangan, masker, dan sebagainya. Undang-undang tersebut menjelaskan pula bahwa kesehatan kerja mencakup pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit yang terjadi akibat pekerjaan, dan syarat kesehatan kerja.

  1. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-undang tersebut mengatur segala hal tentang tenaga kerja, yaitu hak maternal, upah, jam kerja, cuti dari pekerjaan, serta keselamatan dan kesehatan kerja.

  1. Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden

Presiden dan Pemerintah pun mengeluarkan keputusan dan peraturan untuk menjabarkan lebih lengkap Undang-Undang yang mengatur ketenagakerjaan tersebut. Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden mengenai keselamatan dan kesehatan para pekerja adalah sebagai berikut.

  1. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida
  2. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
  3. Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
  4. Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat Hubungan Kerja.

Pentingnya Pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bagi Pimpinan Perusahaan dan Para Pekerja

Kecelakaan dalam pekerjaan dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak aman dan perilaku pekerja yang tidak aman. Oleh sebab itu, para pekerja harus dibekali wawasan yang mumpuni. Harapannya, para pekerja menjadi sadar akan risiko di sekitarnya dan mampu bersikap waspada setiap saat.

Namun, seringkali terjadi kendala dalam proses memahamkan aspek keselamatan dan kesehatan kerja ini. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Penanganan keselamatan dan kesehatan kerja yang kurang optimal

Apabila penanganan kurang optimal, maka pihak yang bertanggung jawab mengurus hal tersebut supaya mencari tahu penyebab masalahnya. Kemudian, carilah solusi paling tepat sesuai kondisi tersebut. Lakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.

  1. Kebijakan tentang keselamatan dan kesehatan kerja dari perusahaan yang kurang tegas

Hal ini dapat terjadi jika perusahaan memaklumi perilaku tidak aman atau tidak sehat dari para pekerja. Perlu adanya ketegasan dari perusahaan untuk menerapkan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

  1. Karyawan kurang paham tentang perjanjian keselamatan dan kesehatan kerja

Untuk mencegah hal tersebut, perlu adanya penjelasan dari perusahaan secara jelas dan tanpa ditutupi oleh perusahaan kepada para pekerja. Para pekerja pun juga harus aktif bertanya jika menemui ketidakjelasan.

Wawasan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting bagi para pekerja. Hal tersebut berguna untuk membentuk budaya dalam bekerja, mengetahui risiko dalam pekerjaan, serta melakukan hal-hal yang mampu mencegah terjadinya kecelakaan pada lingkungan kerja.

 

Ruang Lingkup Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja memiliki empat ruang lingkup, yaitu pelayanan secara preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.

  1. Pelayanan preventif

Pelayanan preventif adalah segala macam pelayanan yang diberikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, penularan penyakit, untuk menguatkan kekebalan tubuh, menjaga kebugaran tubuh, dan sebagainya. Harapannya, para tenaga kerja dapat bekerja secara efektif dan mampu terhindar dari penyakit dan kecelakaan. Hal ini pun mencakup sosialisasi wawasan kesehatan dan keselamatan kerja kepada tenaga kerja agar para tenaga kerja mendapatkan pengetahuan yang mampu membuat diri mereka menjadi sigap dan waspada.

Pelayanan preventif mencakup imunisasi, sosialisasi cara melindungi diri dari bahaya, pemeriksaan kesehatan fisik dan mental secara berkala, sosialisasi tentang kesehatan lingkungan kerja, melakukan penyerasian antara tenaga kerja dengan mesin atau alat kerja, mengenalkan bahaya lingkungan dan cara pengendaliannya kepada para tenaga kerja.

  1. Pelayanan secara promotif

Hal ini mencakup pelayanan untuk meningkatkan kesehatan para tenaga kerja supaya kesehatan fisik dan mental mereka dalam kondisi baik dan semakin baik. Tujuan pelayanan promotif adalah agar para tenaga kerja dapat meningkatkan kesemangatan mereka dalam bekerja sehingga produktivitas dan efisiensi para tenaga kerja menjadi meningkat. Hal tersebut tentu memberi keuntungan kepada perusahaan.

Pelayanan promotif mencakup kegiatan olah raga, rekreasi, sosialisasi kesehatan kerja tahap lanjut, meningkatkan status kesehatan, memberi layanan konsultasi kepada psikolog, dan perbaikan status gizi dengan memberikan makanan sehat kepada para tenaga kerja.

  1. Pelayanan kuratif

Pelayanan kuratif dilakukan kepada pekerja yang menderita sakit atau memiliki gejala sakit akibat bekerja. Pengobatannya dapat dilakukan dengan mengobati secara spesifik atau dapat pula secara umum, tergantung penyakitnya. Hal tersebut bertujuan agar penyakitnya tidak meluas di kalangan lingkungan kerja, keluarga, dan temannya. Harapannya, semua pekerja dalam keadaan sehat dan terbebas dari segala penyakit.

Pelayanan kuratif mencakup pengobatan terhadap penyakit umum yang dideritanya, misalnya flu, demam, demam berdarah, dan sebagainya. Selain itu, pelayanan kuratif mencakup pula pengobatan terhadap kecelakaan dan penyakit yang disebabkan oleh kecelakaan akibat bekerja.

  1. Rehabilitatif

Pelayanan rehabilitatif diberikan kepada tenaga kerja yang mengalami penyakit atau kecelakaan yang parah sehingga mengalami kecacatan. Hal tersebut menimbulkan ketidakmampuan dlam bekerja atau melakukan suatu hal secara permanen. Pelayanan rehabilitatif mencakup pemberian pelatihan bagi tenaga kerja agar dapat menggunakan kemampuannya yang masih bisa dilakukan secara optimal, penempatkan tenaga kerja yang telah cacat ke posisi yang sesuai kemampuannya secara selektif, dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mau menerima pekerja yang telah cacat akibat kecelakaan kerja.

Faktor Utama Penyebab Kecelakaan Kerja

Semua pekerjaan memiliki risiko terjadinya kecelakaan kerja, misalnya tukang pembuat bangunan memiliki risiko terjatuh dari atap, sopir memiliki risiko kecelakaan, pekerja di laboratorium memiliki risiko terpengaruh bahan kimia, dan sebagainya. Oleh sebab itu, semua pekerja pada pekerjaan apapun perlu waspada pada hal tersebut untuk mewujudkan keselamatan dan kesehatan kerja. Salah satu caranya adalah memahami faktor utama penyebab kecelakaan kerja. Apakah Anda sudah mengetahuinya? Jika belum, simaklah uraian berikut!

  1. Faktor Manusia

Sifat, karakteristik, dan perilaku manusia yang kurang tepat dapat memicu kecelakaan kerja. Krakteristik dan perilaku manusia yang rentan terkena kecelakaan adalah sebagai berikut.

  1. Usia

Usia dapat memengaruhi kondisi fisik, kemampuan dalam bekerja, mental, dan tanggung jawab. Pekerja yang masih muda umumnya memiliki fisik yang sehat, kuat, bugar, dan aktif bergerak. Namun, meeka cenderung cepat bosan, memiliki turnover yang rendah, dan cenderung kurang bertanggung jawab.

Usia 30 tahun ke atas walaupun memiliki kemampuan fisik yang cenderung menurun dan mudah lelah, tetapi mereka lebih bertanggung jawab dan berhati-hati dalam bertindak serta mengambil keputusan.

Beberapa jenis kesehatan kerja, misalnya terjatuh, lebih sering terjadi pada pekerja di atas 30 tahun karena kemampuan fisik mereka telah menurun. Selain itu, angka rata-rata kecelakaan cenderung meningkat seiring pertambahan umur para pekerja.

  1. Jenis kelamin

Wanita dan pria memiliki perbedaan yang jelas, baik secara fisik maupun psikis. Pria cenderung memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat daripada wanita. Wanita cenderung lebih teliti dan tidak mudah bosan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Oleh sebab itu, kebanyakan pekerjaan memiliki jenis ‘gender’nya sendiri. Sebagai contoh, kuli bangunan lebih banyak dikerjakan oleh pria, sedangkan petugas administrasi lebih banyak dikerjakan oleh wanita.

Namun, hal tersebut bukan berarti membatasi pria dan wanita untuk bekerja. Hal yang harus menjadi perhatian adalah bahwa pria dan wanita memang berbeda sehingga perlu adanya penyesuaian beban dan kebijakan dalam bekerja, misalnya ketika wanita mengalami kehamilan.

  1. Masa kerja

Masa kerja merupakan durasi waktu para tenaga kerja bekerja. Masa kerja dapat memberi pengaruh baik atau buruk. Masa kerja yang memberi pengaruh baik maksudnya semakin lama maka tenaga kerja semakin berpengalaman sehingga menurunkan risiko kecelakaan kerja. Sebaliknya, masa kerja yang buruk adalah masa kerja yang semakin lama tenaga kerja tersebut bekerja justru memberi dampak negatif kepada perusahaan, misalnya kebiasaan tidak disiplin dan menunda pekerjaan. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

  1. Pemakaian alat perlindungan diri

Alat perlindungan diri adalah alat yang digunakan tenaga kerja guna melindungi sebagian atau semua anggota tubuhnya agar terhindar dari risiko kecelakaan kerja. Walaupun alat perlindungan diri tidak dapat menutup atau melindungi secara semua pada seluruh anggota tubuh, tetapi setidaknya alat perlindungan diri mampu mengurangi tingkat keparahan dari kecelakaan kerja. Namun, hal tersebut tergantung pula dari penggunaan alat perlindungan diri dan tingkat keparahan kecelakaan.

  1. Tingkat pendidikan

Umumnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka ia cenderung untuk berhati-hati dalam bekerja dan menghindari kecelakaan kerja. Hal tersebut karena pikirannya cenderung luas dan terbuka sehingga menyadari bahwa keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan itu sangat penting.

  1. Perilaku

Perilaku tenaga kerja menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam setiap kecelakaan kerja. Tenaga kerja yang ceroboh sangat riskan terkena kecelakaan dalam pekerjaan. Ketidakpuasan tenaga kerja pun dapat membentuk sikap menyepelekan keselamatan dan kesehatan sehingga membuatnya lengah ketika bekerja. Oleh sebab itu, sikap waspada dan hati-hati sangat diperlukan dalam pekerjaan.

  1. Pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja

Pelatihan tersebut bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kerja tentang kondisi alat dan lingkungan perusahaan. Hal ini sangat penting karena mesin-mesin harus dicek secara berkala untuk mengetahui kondisinya sehingga tidak timbul kerusakan yang membahayakan banyak nyawa. Selain itu, pelatihan ini pun berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan tenaga kerja terhadap risiko dalam pekerjaan.

  1. Peraturan dari pemerintah mengenai keselamatan dan kesehatan kerja

Peraturan pemerintah mengenai hal tersebut hendaknya selalu dievaluasi dan disesuaikan dengan keadaan tenaga kerja masa kini. Hal tersebut karena zaman sangat cepat untuk berubah.

  1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah faktor yang berasal dari tempat bekerja dan sekitarnya. Siapa sangka, faktor lingkungan yang tidak sehat mampu menyebabkan kecelakaan kerja pula. Hal-hal apa sajakah itu? Simaklah uraian berikut!

  1. Kebisingan

Kebisingan adalah suara yang keras atau sangat keras, tidak nyaman untuk didengar, serta tidak kita inginkan. Kebisingan dapat mengganggu komunikasi antarpekerja, mengganggu kenyamanan dan ketenangan, serta dapat menyebabkan tuli atau sakit telinga. Sebaiknya, intensitas kebisingan maksimal di tempat kerja adalah 85 dBA untuk delapan jam bekerja. Apabila lebih dari itu, bisa jadi dapat menggangu kesehatan para pekerja.

  1. Suhu udara

Sebaiknya suhu udara di lingkungan kerja adalah suhu normal, yaitu berkisar antara 24ᵒC-27ᵒC. Suhu yang normal mampu membuat para tenaga kerja menjadi lebih efektif serta produktivitas mereka pun meningkat.

Suhu yang panas berdampak kurang baik bagi pekerja, yaitu dapat berpotensi mengurangi kelincahan, mengganggu proses berpikir, mengurangi kinerja tubuh sehingga menurunkan kinerja para pekerja. Suhu dingin pun berakibat kurang baik pada pekerja, yaitu membuat otot kaku dan kurang konsentrasi.

  1. Penerangan atau lampu

Penerangan yang cukup dapat membuat para tenaga kerja mampu melihat dan melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, mereka mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan meminimalisasi kecelakaan kerja.

Lingkungan kerja yang gelap dan minim pencahayaan membuat pekerjaan terhambat. Selain itu, cahaya yang menyilaukan dan menyakitkan mata dapat membuat mata merasa sakit. Hal tersebut dapat menjadi sebab terjadinya kecelakaan kerja. Oleh sebab itu, pastikan bahwa tersedia penerangan yang cukup dan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.

  1. Lantai

Lantai yang licin dan terbuat dari material yang tidak standar dapat membuat tenaga kerja terpleset dan jatuh. Oleh sebab itu, hendaknya perusahaan menggunakan material lantai dari bahan yang keras serta tahan terhadap air dan bahan kimia. Hendaknya lantai dibersihkan secara berkala sehingga memperkecil risiko kecelakaan kerja.

  1. Faktor Mesin atau Alat

Selain faktor manusia dan lingkungan, faktor mesin dapat pula menjadi sebab terjadinya kecelakaan kerja.

  1. Keadaan mesin

Mesin harus dicek dan dibersihkan secara berkala agar tetap bekerja secara prima. Apabila terjadi kerusakan maka segeralah untuk diperbaiki. Kondisi kerusakan mesin yang dibiarkan dapat mengancam nyawa manusia. Selain itu, pasanglah pengaman pada mesin atau gunakan seragam pekerja yang lengkap jika mesin berisiko terhadap kesehatan manusia, misalnya mesin dengan tenaga nuklir.

  1. Letak mesin

Terdapat kecenderungan antara jarak peletakan mesin dengan risiko kecelakaan kerja. Semakin jauh letak mesin, maka risiko kecelakaan kerja semakin kecil.

Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja dapat berpengaruh buruk bagi semua pihak yang terlibat, termasuk keluarga korban, perusahaan, dan lingkungan kerja. Beberapa kerugian yang ditimbulkan di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Hangnya nyawa seseorang atau luka yang terjadi pada seseorang
  2. Biaya bagi karyawan yang terluka
  3. Waktu yang hilang dari karyawan yang terluka, karyawan lain, mandor, dan pimpinan perusahaan
  4. Kerusakan mesin dan lingkungan kerja
  5. Terganggunya proses produksi
  6. Timbul ketegangan akibat kecelakaan di lingkungan kerja

Oleh sebab itu, semua pihak sangat perlu untuk berpartisipasi dalam mewujudkan keselamatan dan kesehatan kerja agar tidak ada yang terluka dan tidak timbul kerugian-kerugian yang tidak diinginkan.

Usaha Pencegahan Kecelakaan Kerja

Pencegahan tersebut sangat memerlukan kerja sama dari semua pihak perusahaan, baik itu pimpinan perusahaan, petinggi perusahaan, hingga para tenaga kerja. Pencegahan dapat dilakukan dengan memahami penyebab kecelakaan. Penyebab kecelakaan dapat berasal dari manusia, mesin, lingkungan, atau kombinasi di antaranya. Hal tersebut dapat diberikan ketika masa training atau sosialisasi keselamatan dan kesehatan kerja sehingga semua pihak telah terbekali wawasan tersebut dan mampu menjaga diri dan lingkungan kerjanya dengan baik.

Jika Anda belum tahu tentang pencegahan yang tepat, tidak perlu khawatir. Di bawah ini diuaraikan tentang cara pencegahan kecelakaan kerja secara lengkap, yaitu sebagai berikut.

  1. Pembuatan peraturan yang jelas dan tegas oleh perusahaan

Peraturan perusahaan menjadi petunjuk dalam pelaksanaan kerja. Hendaknya peraturan dalam perusahaan mencakup kondisi kerja secara umum, perencanaan kerja, kostruksi, pengawasan, hak dan kewajiban pekerja, keselamatan kerja, serta kesehatan kerja.

  1. Melakukan standardisasi

Standardisasi dilakukan untuk menentukan standar resmi yang aman bagi suatu pekerjaan. Hal tersebut menjadi patokan untuk mengerjakan sesuatu. Apabila standar tersebut terpenuhi, maka risiko kecelakaan kerja pun semakin kecil.

  1. Pengawasan

Sebaiknya dilakukan pengawasan oleh orang-orang yang telah terpercaya dan mampu melaksanakannya dengan baik. Hal tersebut bertujuan untuk mengawasi pekerja, apakah sudah menerapkan standar yang ditetapkan atau belum. Jika pekerja masih belum menerapkan, maka pengawas berhak menegur atau memberikan sanksi.

  1. Mengadakan riset pada perusahaan

Riset tersebut sangat penting untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dalam perusahaan, misalnya keadaan mesin, keamanan laboratorium, kondisi mental dan kesehatan pekerja, dan kecelakaan yang sering terjadi beserta penyebabnya.

  1. Pendidikan dan pelatihan

Pendidikan dapat diterapkan di sekolah-sekolah untuk mewujudkan perlindungan diri dalam lingkungan sekitar. Ketika masuk dalam dunia kerja, maka tenaga kerja dapat diberikan pelatihan agar paham dan mengerti dengan baik tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

Please rate this